Malam Minggu kemarin anakku yang umur sembilan tahun nanya sesuatu yang bikin aku diam agak lama. "Ayah, kalau aku nilai matematikanya jelek terus, Ayah masih sayang aku nggak?"
Aku jawab spontan, "Ya sayang lah, emangnya kenapa?" Tapi setelah dia tidur, pertanyaan itu muter terus di kepalaku. Kenapa dia sampai perlu nanya? Berarti selama ini ada sesuatu yang aku lakuin — atau nggak aku lakuin — yang bikin dia ragu. Dan itu bukan salah dia.
Kita Sering Salah Ngukur Kedekatan
Banyak orang tua ngukur kedekatan sama anak pakai satuan waktu. Berapa jam sehari ketemu, berapa kali seminggu makan bareng, berapa kali setahun liburan. Aku juga dulu gitu. Selama masih bisa nganter sekolah dan makan malam bareng, aku merasa aman.
Padahal anak nggak ngitung jam. Anak ngitung rasa. Dia inget ekspresi wajah kamu waktu dia cerita hal yang menurut kamu remeh. Dia inget nada suara kamu waktu dia numpahin susu. Dia inget kamu ngangkat kepala dari HP atau nggak waktu dia manggil.
Dan itu yang jarang kita hitung. Kita bisa ada di rumah dua belas jam tapi anak tetap ngerasa sendirian, karena badan doang yang di situ.
Anak nggak butuh orang tua yang selalu ada. Dia butuh orang tua yang benar-benar hadir waktu lagi ada.
Soal Ngomel yang Nggak Ada Habisnya
Aku mau jujur di sini: aku tipe yang gampang ngomel. Bukan yang teriak-teriak, tapi yang komentar terus. "Kok gitu sih." "Udah dibilangin." "Nanti juga nyesel sendiri." Kalimat-kalimat kayak gitu keluar otomatis, kadang tanpa aku sadar.
Sampai suatu hari istriku bilang sesuatu yang nusuk. Katanya, "Kamu tuh kalau ngomong sama anak, kayak lagi ngoreksi laporan kerja." Sakit sih dengernya. Tapi bener.
Aku baru sadar bahwa anak yang tiap hari dikoreksi bakal belajar satu hal: lebih aman diem daripada cerita. Dan pas mereka remaja nanti, kebiasaan diem itu udah jadi karakter. Kita yang bingung kenapa anak jadi tertutup, padahal kita sendiri yang ngajarin selama bertahun-tahun.
Yang akhirnya aku ubah
Nggak drastis, cuma beberapa hal kecil yang ternyata efeknya kerasa:
- Tahan tiga detik sebelum ngomong. Kedengarannya sepele, tapi tiga detik itu cukup buat mikir apakah yang mau aku bilang itu perlu atau cuma pelampiasan capek.
- Tanya dulu, jangan langsung nyimpulin. "Kok bisa gitu?" jauh beda rasanya dibanding "Kamu sih ceroboh."
- Pisahkan perbuatan dari orangnya. Yang salah tindakannya, bukan anaknya. "Mecahin gelas itu bahaya" beda banget sama "Kamu tuh emang nggak bisa hati-hati."
- Minta maaf kalau salah. Ini yang paling berat buat aku. Tapi anak yang pernah lihat orang tuanya minta maaf, dia belajar bahwa ngaku salah itu nggak bikin harga diri jatuh.
Rumah Harusnya Tempat Paling Aman, Bukan Paling Menegangkan
Ada satu hal yang bikin aku sedih tiap kali denger. Anak yang lebih milih main lama-lama di luar karena di rumah rasanya nggak enak. Bukan karena rumahnya jelek, tapi karena isinya orang-orang yang bikin dia tegang.
Aku pernah ngobrol sama tetangga, seorang ibu yang anaknya udah SMA. Dia cerita anaknya jarang pulang, lebih sering nginep di rumah temen. Waktu aku tanya kenapa, dia jawab, "Nggak tahu, mungkin lagi masa-masanya." Padahal beberapa menit sebelumnya dia baru cerita gimana dia selalu bandingin anaknya sama sepupunya yang kuliah di luar negeri.
Kadang jawabannya udah di depan mata, tapi kita nggak mau lihat. Karena kalau kita akui, artinya kita harus berubah. Dan berubah itu capek.
Yang bikin rumah terasa aman sebenarnya sederhana: anak tahu dia bisa salah tanpa dihabisi, bisa cerita tanpa langsung dihakimi, dan bisa jadi dirinya sendiri tanpa harus jadi versi yang orang tuanya bayangin.
Nggak Semua Konflik Itu Buruk
Ini agak kontra sama yang sering aku baca. Banyak yang bilang keluarga harmonis itu yang jarang ribut. Menurutku itu keliru.
Keluarga yang nggak pernah ribut sama sekali biasanya bukan karena semuanya cocok, tapi karena ada yang milih ngalah terus. Dan yang ngalah terus itu lama-lama numpuk. Sekalinya meledak, biasanya udah telat.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di kartalfm.
Di rumahku, anak-anak boleh nggak setuju. Boleh protes. Boleh bilang "Ayah nggak adil" — asal caranya baik. Awalnya aku ngerasa aneh, kayak wibawa aku hilang. Tapi lama-lama aku sadar, anak yang berani bilang nggak setuju di rumah itu anak yang bakal berani bilang nggak setuju waktu ada temennya yang ngajak hal aneh-aneh.
Kalau di rumah dia dilatih buat nurut tanpa boleh nanya, di luar juga dia bakal gampang nurut sama siapa aja. Ngeri kalau dipikir.
Bedanya protes sama nggak sopan
Ini yang perlu diajarin pelan-pelan. Anak boleh nggak setuju, tapi tetap ada caranya. Aku biasanya bilang gini ke mereka: kalau kamu marah, boleh. Tapi ngomongnya "Aku kesel karena..." bukan bentak-bentak atau banting pintu.
Dan yang penting, aku harus konsisten juga. Nggak lucu kalau aku minta mereka ngomong baik-baik sementara aku sendiri kalau capek langsung nyolot. Anak niru apa yang kita lakuin, bukan apa yang kita omongin.
Yang Bakal Mereka Inget Nanti
Aku sering mikir, dua puluh tahun lagi anak-anakku bakal inget apa dari masa kecil mereka?
Kayaknya bukan mainan yang aku beliin. Bukan juga liburan ke mana. Yang biasanya nempel itu hal-hal kecil — bau masakan tertentu, kebiasaan aneh yang cuma ada di keluarga kita, cara ayahnya ketawa, atau perasaan lega waktu pulang ke rumah.
Dan itu semua nggak dibangun dalam sehari. Dibangun dari ribuan momen kecil yang waktu itu kelihatan nggak penting.
Jadi kalau hari ini kamu ngerasa gagal jadi orang tua karena habis marah nggak jelas ke anak, ya udah. Besok masih ada. Datengin dia, bilang maaf, peluk bentar. Anak jauh lebih pemaaf dari yang kita kira — asal kita nggak nunggu terlalu lama buat minta maaf.
Aku sendiri masih belajar. Masih sering kelepasan, masih sering nyesel abis ngomel. Tapi setidaknya sekarang aku sadar, dan itu udah lumayan.